Postingan

LEBIH BAIK DISINI

Gambar
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering di halaman rumah tua itu. Suaranya lirih—seperti bisikan yang tak pernah selesai, seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi. Di ambang pintu, Sariyah berdiri diam, memandangi jalan tanah yang perlahan sepi. Tak ada yang datang. Tak ada yang mengetuk. Dan ia telah lama belajar berdamai dengan itu. Rumah itu nyaris rapuh. Dindingnya retak, catnya memudar, atapnya kerap bocor saat hujan turun deras. Namun entah bagaimana, rumah itu tetap berdiri—teguh, seperti dirinya. Sendiri. Namun tak runtuh. Dari kejauhan, suara dua perempuan melintas bersama angin. “Kasihan ya… sudah tua begitu, ditinggal anak-anaknya.” “Iya… anaknya pada ke kota semua. Tidak ada yang mau urus." Sariyah mendengar. Jelas. Namun ia tak menoleh. Tak marah. Tak pula tersenyum. Ia tahu—tak semua yang tampak di luar adalah kebenaran. Dan tak semua kesendirian lahir dari ditinggalkan. Langkah kaki tergesa memecah sunyi. “Mak!” Sariyah menoleh ce...

REUNI YANG MENGHIDUPKAN CINTA TERLARANG

Gambar
Disebuah  SMA ternama di kota besar, nama sekolah itu selalu dibanggakan. Gedungnya megah, siswanya cerdas, dan sebagian besar berasal dari keluarga berada. Di antara keramaian itu, ada Yuan—sosok yang biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak pula buruk. Ia hanya… ada. Berbeda dengan Raran. Raran adalah pusat perhatian. Cantik, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak yang mengaguminya, tapi tak semua berani mendekat. Termasuk Yuan. Entah sejak kapan, Yuan mulai memperhatikan Raran. Dari cara ia tertawa hingga keseriusannya saat belajar. Diam-diam, Yuan menyimpan rasa. Tidak untuk dimiliki, cukup untuk disadari. Beberapa kali Yuan mencoba mendekat, sekadar menyapa. Tapi Raran tak benar-benar merespons. Bukan jahat—hanya tidak tertarik. Dunia mereka terasa berbeda. Hari-hari berlalu hingga tiba masa perpisahan. Suasana haru memenuhi aula sekolah. Semua sibuk berfoto, mengabadikan kenangan terakhir. Yuan berdiri agak jauh, memandangi Raran yang dik...

KETIKA PEREMPUAN BERSUARA

Gambar
Rumah itu berdiri di ujung kampung, sepi dan dingin meski matahari selalu menyentuh atapnya setiap pagi. Dari luar, rumah itu tampak seperti rumah lain—ada jemuran di halaman, ada sandal kecil anak-anak di depan pintu, ada aroma masakan sederhana dari dapur. Namun hanya Lina yang tahu, rumah itu tidak pernah benar-benar hangat. Di rumah itu, suara Arman selalu lebih besar dari siapa pun. “Lina!” “Iya, Bang…” “Kenapa kopi pahit begini?” “Maaf… tadi gulanya kurang—” “Semua selalu kurang!” Bentakan itu sudah terlalu sering terdengar. Sampai-sampai Rafi dan Nisa hafal kapan harus diam, kapan harus menunduk, kapan harus masuk kamar tanpa suara. Lina juga hafal. Ia hafal bagaimana menahan air mata sambil tetap memasak. Ia hafal bagaimana tersenyum di depan anak-anak meski dadanya sesak. Ia hafal bagaimana menyembunyikan luka agar tidak terlihat siapa pun. Yang tidak ia sadari, anak-anaknya ikut belajar semua itu. Suatu malam, hujan turun sangat deras. Listrik mati. Rumah gelap. N...

CINTA YANG TAK PERNA DIMILIKI

Gambar
Telepon itu berdering di siang yang biasa. Aku menatap layar ponsel cukup lama. Nomor tak dikenal. Tidak ada nama, tidak ada petunjuk. Hanya deretan angka yang terasa asing. Entah kenapa, hatiku sedikit ragu. Namun akhirnya kuangkat juga. “Assalamu’alaikum…” Suara laki-laki terdengar dari seberang, pelan namun jelas. “Wa’alaikumussalam… maaf, ini siapa ya?” “Aku Liam… teman SMP dulu.” Nama itu seperti mengetuk pintu ingatanku yang sudah lama tertutup. Samar-samar, wajah seorang anak laki-laki muncul—tinggi, rapi, dan selalu terlihat percaya diri. Tapi kami… tidak pernah benar-benar dekat. “Oh… Liam,” jawabku pelan. “Apa kabar?” Percakapan pertama itu sederhana. Ia hanya menanyakan kabarku, lalu bercerita tentang kehidupannya. Istrinya, anak-anaknya, pekerjaannya yang stabil. Tidak ada yang istimewa, namun entah kenapa ada kehangatan yang terselip di antara kata-katanya. Sejak itu, ia sesekali menghubungiku. Tidak sering, tapi cukup untuk membuat namanya kembali akrab di tel...

IBU BUKAN HANYA MILIKKU

Gambar
Di sebuah rumah sederhana, tinggal seorang ibu bersama anak perempuannya, Ana. Dari lima bersaudara, hanya Ana satu-satunya perempuan. Empat lainnya laki-laki, sudah berumah tangga dan sibuk dengan kehidupan masing-masing. Sejak ayah mereka tiada, ibu lebih sering menyebut nama anak-anak lelakinya dalam doa. Hatinya selalu iba melihat mereka bekerja keras menafkahi istri dan anak-anaknya. “Kasihan adek adek mu itu, kerjanya berat,” begitu kata ibu hampir setiap hari. Ana hanya tersenyum. Ia tidak pernah membantah. Semasa sehatnya, ibu adalah sosok yang kuat dan dermawan. Setiap kali salah satu anak laki-lakinya kesulitan, ibu selalu hadir. Kadang dalam bentuk uang simpanannya yang diberikan diam-diam. Kadang dalam bentuk emas yang dijual tanpa sepengetahuan siapa pun. Kadang hanya doa dan dukungan moral yang tak pernah putus. “Tidak apa-apa, yang penting adek adekmu tenang,” begitu kata ibu setiap kali Ana mencoba mengingatkan. Ana pernah berkata pelan, “Bu, sisakan untuk i...

LELAKI YANG HAMPIR LUPA JALAN PULANG

Gambar
Pagi di depan rumahku tidak pernah benar-benar pagi. Ia seperti sisa malam yang enggan pulang—menggantung di antara uap kopi, denting sendok, dan percakapan yang berulang. Warung kecil itu selalu ramai, menjadi tempat orang-orang mengisi perut sekaligus mengosongkan waktu. Aku selalu melewatinya. Tidak pernah singgah. Namun, yang membuat langkahku ingin cepat sampai rumah bukan  itu. Melainkan mereka. Sekelompok remaja  seusiaku, duduk di teras salah satu rumah yang berhadapan langsung dengan warung kopi itu. Dari sana, mereka melihat semuanya—dan menilai siapa pun yang lewat. “Eh, anak mami lewat.” Tawa kecil menyusul. Aku tidak marah. Tidak juga tersenyum. Aku hanya berjalan. Karena aku tahu—tidak semua suara harus dijawab. Namanya Randi. Seorang lelaki yang dikenal banyak orang. Usahanya besar. Hidupnya mapan. Ia punya istri yang cantik dan anak-anak yang masih kecil. Segalanya terlihat utuh. Namun, aku segera menyadari—keutuhan itu hanya tampak dari luar. Randi...

DI JALAN ITU, AYAH KU

Gambar
Pagi itu belum benar-benar terang. Langit masih abu-abu, seolah ikut memikul beban hidup yang tak pernah selesai. Seorang ayah melangkah pelan di jalanan berkerikil, topi lusuh menutupi kepalanya, masker tergantung di dagu, dan di tangannya tergenggam beberapa kantong plastik kuning berisi gorengan hangat. Namanya Pak Rahman. Dari rumah kecil di ujung gang, ia berangkat sejak subuh. Istrinya sudah lebih dulu bangun, menyiapkan adonan, menggoreng dengan penuh harap. “Semoga hari ini lebih baik, yah…” ucap istrinya lirih. Pak Rahman hanya tersenyum. Senyum sederhana, tapi penuh doa. Di jalan, orang-orang berlalu lalang. Ada yang sibuk, ada yang tergesa, dan ada yang bahkan tak sempat menoleh. Namun Pak Rahman tetap berjalan. “Gorengan… hangat… baru diangkat…” suaranya pelan, hampir tenggelam oleh hiruk pikuk pagi. Ia berdiri di pinggir jalan, berharap ada mobil yang berhenti karena macet. Kadang ada yang membeli, kadang tidak. Namun ia tak pernah berhenti. Karena di rumah, ad...